Transaksi E-commerce di Indonesia Tembus Rp 100 Triliun

Lembaga survei McKinsey & Company mencatat perdagangan via Internet atau e-commerce di Indonesia terus berkembang. Jumlah transaksi penjualan di mal online kini telah menembus angka Rp 100 triliun. “Nilainya sekitar US$ 8 miliar atau Rp 112 triliun,” ujar Presiden Direktur McKinsey Indonesia, Phillia Wibowo, akhir pekan lalu.

Angka terbaru ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding 2015 yang hanya sebesar US$ 48 miliar. Jumlah orang yang terlibat dalam transaksi e-commerce pun melonjak dari 7,4 juta orang menjadi lebih dari 15 juta orang. McKinsey menilai pesatnya tren belanja secara online didorong oleh semakin murah dan luasnya jangkauan layanan seluler di Indonesia.

Menurut Phillia, pertumbuhan e-commerce membuka potensi bagi industri dalam negeri. Sebanyak 30 persen dari perdagangan online merupakan belanja barang tambahan atau konsumsi, yakni senilai US$ 3 miliar atau Rp 42 triliun. Ceruk pasar barang konsumsi diprediksi semakin tinggi hingga Rp 308 triliun pada 2022 mendatang.

E-commerce, kata Philia, juga berpeluang membuka akses ekspor bagi barang industri kreatif. Lima tahun ke depan, kanal perdagangan online ini diproyeksikan dapat menyumbang ekspor senilai US$ 26 miliar atau Rp 364 triliun. “Secara otomatis ini juga akan meningkatkan ketersediaan lapangan kerja,” ujarnya.

Saat ini e-commerce setidaknya telah menyediakan 4 juta lapangan kerja. McKinsey memperkirakan angka tersebut naik lebih dari enam kali lipat pada 2022. Survei dan proyeksi terbaru ini menjadi kabar baik bagi pemerintah yang tengah berupaya meningkatkan ekspor.

Sejauh ini, perkembangan e-commerce dianggap lebih mendorong laju impor lantaran hampir 90 persen barang terutama konsumsi yang diper dagangkan merupakan produk luar negeri. Ecommerce belakangan juga menjadi salah satu “kambing hitam” di balik melonjaknya impor barang konsumsi hingga untuk pertama kalinya menyentuh 10 persen dari impor total. Menteri Telekomunikasi dan Informatika Ru diantara mengatakan bakal melakukan banyak kolaborasi de ngan berbagai pihak untuk memperbesar potensi pasar produk dalam negeri di e-commerce.

Selain membuka peluang ekspor, kata dia, pertemuan de ngan bos Alibaba, Jack Ma, kemarin membicarakan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurut Rudiantara, memperbanyak sumber daya manusia lokal yang mumpuni di bidang bisnis teknologi amat penting. Pemerintah pun meminta Jack Ma ikut membangun lembaga pendidikan teknologi semacam Jack Ma Institute.

Jack Ma menyatakan telah menerima usul yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo itu dalam pertemuan pada Sabtu lalu. Namun, menurut dia, implementasinya masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. “Kami perlu bicara tentang isu penting lain, seperti inklusi finansial dan kaitannya dengan Internet, kata Jack Ma.

Selama ini Alibaba sebenarnya juga memiliki program penyuluhan usaha kecil dan mene ngah untuk bergabung ke ecommerce. Penyuluhan yang diberi nama “Alibaba Global Course” tersebut diselenggarakan oleh Alibaba Business School, hasil kerja sama Hangzhou Normal University of China, Taobao University, dan Alibaba Group. Selama beberapa tahun terakhir, kolaborasi ini telah mengadakan lebih dari 30 kursus di enam negara, termasuk di Asia Tenggara. Pesertanya lebih dari 2.500 orang, di antaranya merupakan pelaku usaha kecil dan menengah.