Suriah Hujan Peluru, Turki Banjir Pengungsi

Qays, ayah dua anak, dan keluarga mudanya tak punya pilihan lain. Pria berusia 26 tahun ini hanya bisa menunggu, apalagi bila teringat perjalanan melelahkan dari Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel, dan bergabung bersama sejumlah keluarga lainnya ke dalam bus yang mengangkut mereka ke Idlib, Suriah. ”Tidak ada lagi tempat bagi kami untuk pergi.

Jika serangan di Idlib terjadi, itu akan menjadi pertumpahan darah,” kata dia kepada Al Jazeera, akhir pekan lalu. Qays, relawan kelom- pok pertahanan sipil yang dikenal sebagai White Helmets, adalah salah satu dari hampir 3 juta orang bersama ratusan pemberontak yang tinggal di Provinsi Idlib, barat laut Suriah. Idlib adalah benteng terakhir yang dikuasai pemberontak di Suriah. Dalam beberapa hari, pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad mengepung Idlib. Pasukan Suriah siap melancarkan serangan yang digambar kan sebagai pertempuran besar terakhir dalam perang sipil tujuh tahun yang menewaskan ratusan ribu warga sipil. Pasukan Suriah bersumpah untuk mengambil kem bali “setiap inci” tanah Suriah.

Pasukan Assad, yang didukung sekutunya, Rusia dan Iran, dalam beberapa tahun terakhir menggulingkan pemberontak dari Aleppo, melalui Ghou ta Timur di pinggiran Da maskus, ke Deraa, pada 2011. Jika serangan di Idlib terjadi, ini akan menja di “badai yang sempurna”, menurut utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan Suriah, Staffan de Mistura.

Pertempuran itu akan mempengaruhi kehidupan jutaan warga sipil, apalagi ada ancaman kedua kubu menggunakan senjata ki mia. Filippo Grandi, kepala urusan pengungsi PBB, memperingatkan bahwa serangan habis-habisan akan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan. Provinsi Idlib sejatinya ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi” bagian dari perjanjian antara Rusia, Iran, dan Turki di ibu kota Kazakstan, Astana, pada 2015. Kementerian Pertahanan Rusia pada Rabu lalu mengumumkan finalisasi penempatan “pos pengamatan” militer di sekitar bagian luar Provinsi Idlib sesuai dengan kesepakatan Astana.

Mohammed, aktivis pro oposisi berusia 24 tahun di Idlib, mengatakan pertempuran memaksa sejumlah keluarga warga lokal untuk meninggalkan desa mereka. “Sejumlah keluarga mengungsi dari pinggiran tenggara Idlib menuju perbatasan Turki.”

Pergerakan seperti itu mungkin bakal meningkat jika serangan pemerintah benar-benar terjadi. “Perbatasan Turki. Itu menjadi satu-satunya arah yang dapat kami tuju,” ujar Mohamed. Turki, yang sudah menampung lebih dari 3 juta pengungsi Suriah, telah menutup perbatasannya dengan Suriah tahun lalu.

Turki hanya mengizinkan pengiriman barang-barang bantuan kemanusiaan. Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki, mengatakan Ankara sedang men- coba untuk mencegah se rangan di Idlib. Dia menyebut perkembangan di Idlib seperti sekarang ini bak bencana. Melihat situasi yang semakin memanas, PBB meminta Rusia, Iran, dan Turki mencegah terjadinya pertempuran di Provinsi Idlib, Suriah. “Akan lebih baik mengatur koridor ke manusiaan untuk mengevakuasi warga sipil daripada terburu-buru terlibat pertempuran sengit,” ujar De Mistura.